LAUT I Ketika berjalan menyusur dan terus menyusuri kita tahu Bintang yang redup Kemudian mayat-mayat; kematian ada di mana-mana, pikir kita Dan lebih redup dari tenggelamnya matahari Kadang kita dengar sendiri suaranya perlahan, bagai hewan di rumah jagal Tapi kita ingat ayah kita pernah berkata suatu hari "Aku menyintai laut. Tapi bukan karenanya aku meninggalkan kalian Aku ingin bersama-sama nanti mati Aku ingin kalian mengerti laut yang mengawinkan musim demi musim" Lalu kita mengerti laut. Kita jatuh cinta pada laut Dan ayah kita laki-laki tukang jagal itu, akan berkata "Usia kalian nanti hanya separoh, nak. Selamat Tinggal" Tiap sore kita ingin datang ke laut Menyaksikan kapal-kapal berangkat menembus malam dengan layar berguncang-guncang Suaranya seperti hujan. Mereka berangkat sebelum laut menutupkan pintu-pintunya Jauh di ujung pantai mata mereka basah Kita tak tahu. Hanya pada usia kita ke dua puluh dua Mereka membawa kita berlayar Kita langit redup kita dapati pelancong-pelancong itu basah matanya Tapi mereka berkata, besok kita akan sampai Dan kita tertawa, kita pikir sebuah lelucon Ketika matahari tenggelam perempuan itu mengajak kita minum Mata kita yang basah tak membuatnya paham, terus saja bercerita "Aku kawin ketika ibuku mati. Aku dibelinya tanpa syarat Mungkin aku tak menyintai laki-laki, tak menyintai ibuku" Suatu hari kita dengar perempuan itu melahirkan Tak ada ucapan, hanya kita tahu anaknya perempuan Yang kemudian kawin dengan laki-laki Pagu Dan melahirkan beberapa anak perempuan, yang tak mampu mengawinkan Adakah yang kembali ke laut? II Kita terus melangkah dan langkah seperti ombak Tak tertahan. Sedang pohon-pohon menggigil Pohon-pohon berduri dengan daunnya yang hitam Suaranya mengingatkan kita pada seorang nelayan yang sopan Di malam-malam di antara jala-jalanya selalu berkata "Pada penguburan istriku yang ke sekian, juga ada bintang jatuh Kami tidak ke laut karena belum saatnya Itulah caranya menghomati arwah yang pergi Mungkin ke tempat yang mengerikan" Kita berpikir bagaimana caranya ia melepaskan diri dari Maut Sebab suatu kali kita pernah lihat wajahnya seperti peri Kita berjabat tangan lalu bersama-sama ke laut Sebelum berpisah ia berkata, baiklah kutinggalkan perahu dan laut kutinggalkan ombaknya di pasir dan karang dengan nyanyiannya Hari berikutnya kita saksikan pantai masih seperti semula Angin tak berubah peluit melengking dari kapal-kapal Tapi kita tak bisa ke laut karena musim mengikuti upacara pemakamannya Pada pelayaran penghabisan mereka memaksa kita mabuk habis-habisan Mereka bercerita dengan dipenuhi minuman, kita akan menemui Ajal di tempat yang sangat buruk Itu karena kita akan segera ke darat, kita akan ke kota Laut adalah tempat istirah yang tak apalah mengerti Selain diri kita masing-masing 1990