Rajuk tersentuh di pinggir nurani mengheret hingga tertebuk lubuk hati sakit menangis nanah menghiris luka menguris tidak terlerai dalam ungkapan walau berjauhan jasad walau kecewa hangat menhambat masih terlekat setitip senda mesra segantang senyum menguntai pernah berkilau yang kini alih arah hilang halatuju biar ku undur diri bersama tangkai hati layu dan kering diapit keredhaan memanjang. Darul Islah (Buat pengerak rumah tumpangan ini) hadirmu meyakinkan keluh-kesah yang menebal di lubuk nurani hadirmu merangkak jiwa retak menyedari erti kesesatan hadirmu menatang rintihan kami walau sengsara mencari arah yang pernah tersasar dilambung paluan kedegilan merengkok hingga tak kenal purnama kami tak punya masa merenung keunggulan siang dan malam digilis nafsu membuta yang pernah terperangkap dibalik gerigil besi memagari akal fikiran buntu menghantui yang membakar segala keceriaan hidup hingga melecur martabat diri Darul Islah kelahiran memancar inspirasi kami penerang kegelapan kami payungi derita kami agar sempurna titian yang dulu rapuh dimamah keegoaan diri lupa asal-usul kami lupa tanggungan di pundak ini Darul Islah kau junjung tangisan kami terimakasih.